CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Cari

Custom Search

Penghuni Dab

Black Parade

BLACK PARADE

Usahanya Anak Parade

Senin, 01 Juni 2009

Melyani

Melyani



Nama lengkap : Melyani Dyah nugraheni
Nama keren : Mel/ I-mel
TTL : Purworejo, 4 Februari 1993
Nationality : Indonesia
Religion : Islam
Alamat : Pangenrejo RT.02 RW.06 Purworejo 54115
Hobi : membaca


Makes : Mie, Nasi goring, sup jagung
Mikes : susu coklat, air putih
Warna kesukaan : pink dan biru
Cita-cita : Menggapai mimpi
Motto : Jadilah pemimpin diri sendiri
Cowok idaman : Cakep (ga pasti), seiman, baek
Organisasi : Parade, Silat, OSIS, Pramuka
Musik Kesukaan : Pop
Film kesukaan : Harry Potter, Narnia, Rambo dan laen-laen
Buku kesukaan : komik, cerpen, yang berasa membuatku tertarik dll
No HP : Rahasia
Alamat E-mail : caeluya_yani@yahoo.co.id
Tokoh favorit : Nabi Muhammad SAW, Bapak ku, tokoh kartun, ibuku
Status : Pelajar, belum nikah
About d’writer : apa ya?
Bakat : UNTUK SAAT INI AKU BELUM MENEMUKANNYA MUNGKIN ADA YANG TAU BOLRH SMS..


Read More......

Lilis

Lilis


Nama lengkap : Lilis Setyaningsih
Naker : Gn_TYA
TTL : Purworejo, 8 April 1993
Nationality : Indonesia
Religion : Islam
Alamat : Wonoroto, RT.04 RW.01 Purworejo
Hobi : membaca, makan, nonton TV

Makes : noddles, halal+enak+murah????
Mikes : Jus Melon, nge-the
Warna kesukaan : hijau, biru
Cita-cita : dosen, pengajar (G’tahu lah masih pengharapan)
Cowok idaman : Ganten di mataku, Religius+Pinter, Gaul, kaya+baik, Pantes, Asyik di ajak ngobrol dsb (dan saya bingung)
Organisasi : PMR, Pramuka, OSIS (anggota), PARADE!!!
Musik kesukaan : Pop
Buku kesukaan : pokoke menarik minat bacalah….
No Hp : rahasia
Alamat : GnTYA_PRETTYCUTE@yahoo.com
Tokoh favorit : Ada….aja….
Status : jomblo……(???)
About d’writer : apik-apik wae kadang nggemesi….he3x
Bakat : masih dalam proses pencarian
Kesan buat Parade : Rasanya aku sulit untuk berpisah dengan anak-anak PARADE, yang gokil’n seru Abizzzzz, BOMBASTIS Bangetzzz….
Film Kesukaan : Sinetron, Kartun Gokil


Read More......

Finan

Finan

Nama : Muhammad Finan Hazza
Nama Keren : Sengak
TTL : Purworejo, 16 Agustus 1993
Nationality : Indonesia
Religion : Islam
Alamat : Perum mranti, “Toko Putri”
Hobi : monyak


Makes : Nasi aking, mie ayam+kulit+tempe
Mikes : Loce Jack daniels+Olie+marimas leci
Warna kesukaan : punya istri cakep, kaya harta, ilmu melimpah, masuk surge
Motto : Gue ini cakep…..cakep ini gue…..
Ce idaman : Aluna Sagita gutawa
Organisasi : WGC, Gorillaz Fans, Parade.bat
Music Fav : Heavy metal, Gorillaz’s album, D’massiv album
Film fav : Teeth, Film berbau Ngehe…
Buku kesukaan : 1001 cara jadi cowok ngehe
No HP : Rahasia
Alamat E-mail : chemical_uniqueboy@yahoo.co.id (FB, email)
diemydiery@2-d.com (FS)
Tokoh Fav : 2 D, Russel, Noddle, mordoc, ryan d’massiv
Status : sedang menjalin jalinan kasih (peduli kasih)
About d’writer : Gue Ngehe dhewe….
Bakat : menghina orang, mukulin Sayid, meludah di muka Sayid, mengacungkan jari tengah


Read More......

Sabtu, 30 Mei 2009

MINE

MINE

Purworejo, 20 Mei 2009
Alam
Suara percikan air
Yang mendendang ditelinga
Suara cit-cit burung
Seakan menambah aroma pagi
Aku tau dimana aku
Aku tau siapa aku
Dan aku tau bagaimana diriku
Namun yang tak pernah kurelakam
Melewati pagi bersama
Melakoni aktifitas yang tiada henti
Hanya bersama kalian
Alam…………..
Alam yang bersahabat
Walau dalam suka ataupun duka
Walau dalam sempit ataupun lapang
Terimakasih alam
Atas semua yang kau persembahkan

By : !t !$ x-2

By : !t !$ x-2

uasana pagi di sebuah desa terpencil di kecamatan Air Upas kabupaten Ketapang sangat menyejukkan jiwa dan raga. Alam seakan bisa bersatu dan menjadikan jiwa yang sunyi menjadi secerah percikan sinar yang muncul dari singgasananya. Sebuah kehangatan pagi yang takkan pernah terelakan untuk dilewatkan. Ditambah para tetangga yang ramah dan menjunjung tinggi rasa persaudaraan.

“ Ma, ayo bangun! Dah pagi ni!” suara lembut papa yang membangunkan mama. Hanya dalam hitungan detik mama bangun tanpa membangunkan aku. Sebenarnya aku sendiri ikut terbangun oleh suara papa, tapi aku pura-pura masih tidur karena aku ingin selalu dimanja oleh papa dan mama. Setelah waktu sholat subuh tiba, Papa dan mama membangunkan aku dan kakak untuk sholat subuh. Seusai sholat subuh Mama memasak sementara aku kembali lagi ke tempat tidur yang dengan setianya menunggu aku. Aktifitas mama dan papa setiap pagi seperti itu, walaupun terkadang mama telat bagun karena kecepean karena harus memanen kelapa sawit atau sekedar bersih-bersih disekitar kebun kelapa sawit yang selama ini kami harapkan hasilnya. Tetapi sekarang itu hanya sebuah isapan jempol belaka. Papa yang dulu setiap pagi pergi ke kebun sawit untuk memenen atau hanya sekedar merawat kelapa sawit kini tidak lagi..
Papaku adalah tipe orang yang sangat sederhana. Papa hanya bekerja sebagai kuli bangunan di sebuah pabrik sawit yang jaraknya lumayan jauh dengan rumah kami. Papa juga harus mengayuh sepeda untuk sampai di tempat kerja. Karena jarak yang sangat jauh dan membutuhkan waktu setengah hari untuk sampai maka papa dengan berat hati meninggalkan kami di rumah dan papa tinggal di perumahan sederhana milik perusahaan itu. Sehingga papa pulang hanya satu bulan sekali itupun tidak pasti. Biasanya papa pulang dengan mengayuh sepeda tua yang selalu menemani papa setiap akan berpergian. Tetapi papa tidak pernah mengeluh kepada mama, aku ataupun kakak. Walau hanya dengan gaji Rp 543.000,00 per bulan tapi papa selalu mensyukuriny karena itu lebih baik dari gaji hasil panen kebun kelapa sawit kami. Yang selalu papa inginkan adalah hidup bahagia dalam naungan agama islam. Papa selalu mengingatkan kami untuk sholat. Selain itu papa dengan sabarnya mengajari aku dan kakak untuk mengaji agar kelak anak-anaknya menjadi anak yang soleh dan solehah. Itulah yang membuat keluarga kami selalu bahagia walaupun kami selalu hidup seadanya.

***
Suasana pagi itu memang membuat aku terlena. Suara ayam yang selalu membangunkan akupun tak terdengar. Tiba-tiba mama membuka pintu kamar dan membangunkan aku dan kakak yangsedang asyik bermimpi hingga ke negri Jiran. Kamar aku dan kakak memang jadi satu, hanya saja berbeda ranjang sehingga mama mudah untuk membangunkan aku dan kakak. Suara mama yang cukup keras mengahetkan aku. Hingga akhirnya aku jatuh dari tempat tidurku. Sementara kakakku dengan bangganya mengejek aku yang sedang teraniyaya karena jatuh dan harus menahan sakit.
“ Sity! Kakak! ayo bangun! Kita semua mau menyusul papa di PT. HARAPAN SAWIT LESTARI. Cepat kalian mandi!” kaya mama.
“ Ha……………..?” Kami secara serentak berteriak karena terkejut mendengar berita itu. Sebuah berita besar yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Sebuah berita yang selama ini hanya ada di angan-anganku.
Mama dengan semangat 45menyuruh aku dan kakak untuk segera mandi. Karena sebentar lagi kami akan bertemu papa yang sudah dua bulan tidak bersma kami karena papa harus bekrerja untuk menafkahkan keluarga, mencari uang untuk sekolah aku dan kakak. Tapi beberapa saat kemudian aku dan kakak menuruti nasehat mama untuk segera mandi.

***
Suatu malam yang cerah, dimana bulan yang bersinar menyinari bumi seakan menggambarkan suasana hati yang bahagia. Tetapi hal itu tak tampak ada sebuah kebahagian diraut wajah papa karena disamping papa tidak ada aku, mama maupun kakak. Tetapi papa selalu berusaha untuk tabah dalam menghadapi apapun. Walaupun kadang papa merasa kesepian. Papa ingat betul bagaimana keadaan keluarga kami jika papa tidak bekerja di perusahaan itu. Apakah hanya menunggu gaji sawit yang tak tentu. Tidak, dalam hati kecilnya papa tidak ingin mengulanggi dimana gaji pertama yang papa peroleh dari hasil panenan sawit kami hanyalah Rp 2.000,00 Sabuah angka yang bisa memotifasi papa untuk bekerja lebih giat lagi agar bisa mencukupi kebutuhan kami.. Itupun papa harus panas-panasan melawan panasnya matahari, dingginya hujan dan keringnya tenggorokan. Sebuah perjalanan hidup yang sangat sulit untuk dilewati. Perjuangan yang sangat besar demi memperolah sesuap nasi. Sungguh besar jasa papa yang tiada bisa kami balas dengan apapun. Terimakasi papa, semoga jasa-jasa papa mendapat ridho dari Allah SWT.

***
“Sity, cepat! Kakakmu sudah selesai. Nanti kita langsung ke Air Upas untuk menunggu bis!” perintah mama sambil membereskan barang-barang yang akan dibawa.
“ Iya Ma. Bentar lagi aku selesai.”
Sememtara kakak sudah siap dengan tas ranselnya. Kakak yang masih duduk di kelas 6 SD seakan menggambarkan seorang kakak yang siap melindungi aku dan mama diperjalanan nanti. Tapi wajah imut nan lugu kakak seakan menghilangkan pandangan kalau kakak yang akan menjaga kami. Justru pandangan bahwa kakak yang akan merepotkam kami. Setelah beberapa saat aku keluar dari kamar sambil menenteng boneka yang selalu aku bawa. Boneka lucu pemberian mama ketika aku baru masuk sekolah dan hinnga aku kelas 3 SD. Setelah kami semua siap kami meninggakan rumah menuju ke Air Upas. Sebuah kecamatan yang terletak di tengah-tangah hutan rimba dan dilewati oleh bis yang akan menghantarkan kami ke perusahaan dimana papa bekerja. Tapi sebelumnya kami menghampiri tetengga kami yang akan kesana juga u. Walaupun perasaan bahagia muncul diwajah mama tapi mama tetap seperti menyembunyikan sesuatu yang harus aku diungkap. Mama yang hampir tidak mengucapkan kata-kata sedikitpun tiba-tiba meneteskan air mata kebahagiaaan dan kesediahan. Air mata bahagia karena mama akan bertemu papa tapi air mata kesedihan karena mama akan meninggalkan kampung halaman tercinta. Sebuah kampung yang sangat subur dan asri, walaupum letaknya di tenggah-tengah hutan balantara.
Ketika kaki mulai melangkah untuk menuju Air Upas, tiba-tiba seorang anak seumuran denganku lari menuju aku sambil meneteskan air matanya dan memanggil-manggil namaku. Dia adalah gadis kecil yang tanpa dosa yang membawa sejuta ketulusan Dia juga sahabat kecilku yang selalu ada disampingku ketika aku dalam kondisi suka maupun duka. Seorag sahabat yang selalu berbagi cerita dan canda bersama. Seorang sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudara kandungku. Tapi kini aku harus meninggalkan sahabat kecilku di sebuah pedalaman suku Dayak. Orang-orang dayak yang sulit untuk berbaur dengan para pendatang. Perasaan ini seakan berontak, tidak rela meninggalkan dia sendiri tanpa teman yang bisa membuat kebahagiaan. Itu mungkin memeng sudah menjadi sebuah suratan kalau aku harus rela menjalani semua ini. Yaitu sebuah pilihan yang sulit aku tentukan. Ketika tanganku ini bersalaman dengannya seakan aku tidak mau untuk melepaskannya. Dengan segenap perasaan dia memelukku erat-erat. Sebuah pelukan perpisahan dari seorang sahabat. Seakan dia tidak rela melepaskan aku. Air mata yang membasahi wajahnya membuat aku bertambah tidak tega menghadapi semua ini.
SAHABAT
Sahabat kecil
Kau selalu ada
Disaat aku tertawa
Disaat aku menangis
Hatiku tak rela
Hatiku tak tega
Melihat kenyataan pahit
Melihat kenyataan yang tak lagi bersahabat
Maafkan aku
Jangan pernah lupakan aku
Untuk selama-lamanya
***
Setelah aku, keluargaku dan tetanggaku sampai di Air Upas kamipun duduk di sebuah warung makan sambil menunggu bis yang datang. Semoga bis itu seagera datang. Karena di daerah itulah bis lewat dan hanya dua hari sekali. Itupun terkadang sudah penuh oleh penumpang yang ingin bepergian ke daerah lain . Tapi semangat 45 kami tak urung pudar. Kami menunggu hingga malam hari. Malangnya bis yang kami tunggu tak kunjung datang. Tiba-tiba hujan dengan derasnya mengguyur daerah itu. Perasaankupun menjadi bertambah cemas, bagaimana kalau sampai aku tidak jadi bertemu papa. Sedangkan mama an tetanggaku sudah tertidur pulas karena kecapean menunggu kedatangan bis. Sementara kakak hanya mondar-mandir menunggu kedatangan bis yang tak kunjung datang.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh kakak. Ditengah derasnya huhan kakak lari menuju pinggir jalan. Ternyata kakak hanya memastikan apakah cahaya yang tampak dari kejauhan itu bis yang kami tunggu. Ternyata itu benar, bis yang kami tunggu sudah dating. Setelah itu kakakku membangunkan mama dan tetanggaku. Beberapa saat kemudian bis yang kami tunggu berhenti tepat di depan sebuah warung tempat kami menungu. Derasnya hujan, dinginnya malam dan gelapnya malam tak menyurutkan semangat kami untuk naik ke bis. Walaupun pakaian aku basah, tapi hati kecilku merasa sangat senang karena nanti akan bertemu papa yang selama ini aku rindukan. Diwajah mama juga mengisyaratkan kalau mama juga sedang bahagia akan bertemu papa.
Selama dalam bis, aku hanya terdiam. Bukan karena mengantuk tapi karena aku sudah tidak sabar untuk bertemu papa. Aku ingat betul pesan-pesan papa kepada aku dan kakak. Papa selalu berpesan agar anak-anaknya menjai anak yang selalu berbakti kepada kedua orang tuanya.
Setelah kurang lebih dua jam didalam bis, akhirnya kami sampai juga di kecamatan Manis Mata. Yaitu kecamatan tempat papa bekerja. Setelah itupun kami turun dari bis. Setelah itu aku langsung menuju komplek dimana papa tinggal. Sebuah kompek perumahan tua yang khusus dihuni oleh pekerja kasar seperti papa. Aku tau komplek itu papa karena sebelumnya aku sudah diberitahu oleh tetanggaku yang juga bekerja di perusahaan yang sama dengan papa. Beruntunglah barang bawaan kami hanya sedikit. Sehingga kami tidak perlumemanggil papa untuk membawakan barang bawaan kami. Dalam benak pikiranku yang muncul saat itu adalah yang akan aku lakukan yaitu memberi kejutan papa.
Setelah sampai didepan komplek papa, aku langsung berteriak.
“ Papa…………….. Papa………….”
“Ya sebentar! Siapa ya….?” Seseorang dengan suara besar menjawab dari balik pintu .
Setelah beberapa saat orang itu muncul dari balik pintu. Treng…………. Ternyata seseorang yang tinggi besar dan berkumis ymembuat aku menangis. Pada saat itu juga aku langsung nangis, dan mama langsung menghampiri aku dan menggenong aku. Ternyata aku salah pintu. Sebuah kejadian yang sangat memalukan. Beruntunglah aku masih kecil sehingga aku tidak terlalu malu. Setelah mama minta maaf, kami menuju komplek sebelahnya. Komplek yang memang tempat dimana tinggal papa.
Ketika papa membuka pintu, aku langsung turun dari gendongan papa dan memeluk papa. Betapa bahagianya aku bisa bertemu papa dan dunia seakan hanya milikku seorang. Papa juga langsung menyambut pelukan anak bungsunya dengan perasaan bahagia dan lega. Papa tidak menyangka jika kami akan menyusul papa. Setelah beberapa saat papa baru sadar kalau mama dan kakaksuda berdiri di belakangku sejak tadi.. Setelah mereka berpelukan papa masih tetap tercengang dan hanya berdiri di depan pintu.
“ Pa…… Kita kan capek. Masak ndak suruh masu?” tanyaku sambil mencubit papa.
“Auk aem. Ayo kita masuk!” Papa menjawab dengan bahasa khas dayak.
Setelah dipersilakan masuk oleh papa, maka kami langsung masuk. Sebuah rumah kecil dan sederhana . Tidak terlihat ada barang-barang yang berharga hanya saja sudah ada penerang listrik yang siap menerangi ruang-ruang yang ada. Tidak seperti ketika aku tinggal di Air Upas. Suatu keadaanimana pada malam hari gelap gulita, tiada lampu penerang yang masuk. Hanya sebuah sentir yang selalu menemani malam-malam kami. Suara jangrik dan hewan-hewan yang membubarkan kesunyian malam kami.
Setelah beberapa saat kemudian papa menyiapkan makan malam untuk kami. Kamipun makan bersama. Sebuah malam yang selalu aku nanti-nanatikan walaupun mammal itu hanya makan nasi dan sayur bayam. Malam dimana keluargaku bias berkumpul bersama dan bisa menikmati makan bersama. Sebuah momen yang tidak bisa aku lupakan dalam kehidupanku walaupun saat itu aku masih duduk di kelas tiga SD. Tapi aku bisa merasakan kebahagiaan yang diinginkan setiap orang.
Tiada suara ayam yang berkokok, dan suara hewan-hewan yang selalu mengusik tidurku. Tapi suara azan dari masjid yang jaraknya cukup jauh yang menyusuk keheningan tidurku. Setelah sholat subuh, aku keluar rumah untuk menikmati pagi yang cerah. Suasana yang sangat indah dan sebuah pemandangan perumahan sederhana yang berjajar rapi. Tepat berada du depan komplek itu ada sebuah bagunan yang besar. Disana ada beberapa orang yang sedang sibuk menyiapkan sesuatu. Entah apa yang aku lihat, tapi aku tidak terlalu memperdulikannya. Tiba-tiba papa datang dan berdiri disampingku.
“ Nak, kenapa kamu berdiri di sini sendirian?” Tanya papa.
“Aku hanya ingin menikmati indahnya pagi pa..”
“ Apa kamu tidak ingin papa temani untuk jalan-jalan?”
“Tidak pa, aku hanya ingin Tanya. Apa yang mereka lakukan?” jawabku sambil menunjukkan jari telunjukku yang kecil kearah orang-orang yang sedang sibuk menyiapkan sesuatu di dekat mobil besar yang menurutku sangat aneh. Mobil yang aku sendiri tidak tau mobil apa itu. Dan itu adalah mobil aneh yang pertama kali aku lihat.
“Oh itu. Mereka adalah karyawan yang bertugas dibagian distribusi. Tugas mereka adalah mengantarkan minyak mentah itu kesebuah pelabuhan. Dan mobil besar itu namanya adalah tanker. Didalam tabung itulah minyaknya disimpan.” Papa menjelaskan dengan panjang lebar.
“Pa….” suara lirihku mengagetkan lamunan papa.
“Ada apa?” papa bertanya kepada aku dengan lembut.
“Apa papa juga bekerja seperti mereka?”
“Tidak. Papa bekerja sebagai tukang bangunan. Terkadang papa harus panas-panasan membetulkan bangunan, membetulkan gentian atau sekedar mengecat tembok. Terkadang papa juga dikirim ke bandara khusus helikopter milik perusahaan untuk menembel lapangan yang sudah rusak.” Jawab papa.
“ Pa, sebenarnya papa ngerasa capek ngak sih? Papa kan harus bekerja untuk aku, mama dan kakak.”
Papa hanya terdiam. Aku tau papa pasti merasa capek. Papa ingin istirahat, menikmati hidup yang hanya sekali dan tidak dapat diulangi lagi. Aku memandangi papa sambil merasakan bagaimana keadaan yang harus papa alami setiap hari. Papa harus berabngkat bekerja mulai dari pagi jam 07:00 sampai jam 16:00. membanting tulang untuk menyekolahkan kami.
“ Nak, papa tidak akan merasa capek, jika kamu dan kakakmu jadi orang yang sukses, berbakti kepada orang tua dan selalu dijalan Allah.”
Aku hanya mengangguk mendengarkan papa yang sedang berbicara.
“ Nak, jika kamu sudah besar nanti papa ingin kamu menjadi orang yang sukses dan selalu dijalan Allah. Dan jangan lupa selalu sholat lima waktu. O.k!”
“ O.K!” jawabku ingkat.

***
Sementara di dapur mama sedang memasak. Tiba-tiba kakakku dating an mengagetkan mama.
“ Dor…ma, adek dan papa kemana sih. Kok di kamar ngak ada?” Tanya kakak.
“ Tu ada di depan. Kamu panggil gi. Mama sudah selesai masak dan kita semua sarapan pagi bersama.”
“O.k ma.” Jawab kakak.
“ Pa… Dek… Ayo kita makan bersama!” ajak kakak sambil menuju kearahku dan papa.
“O.k. eh kak. Kakak ingin jadi seperti papa ndak?”
“ Kakak? Kakak nggak mau jadi seperti papa yang hanya tukang bangunan biasa. Tapi kakak ingin jadi arsitek yang sukses. Sehingga papa tidak susah-susah cari uang untuk kita. Yang ingin kakak tiru dari papa adalah semangat papa dalam mencari nafkah.” Kata kakak.
Kata-kata kakak seakan membuat papa menjadi terharu dan papapun memeluk kami dengan erat. Pelukan yang penuh kasih sayang antara anak dan papanya.
“ Papa… aku ingin papa selalu ada di dekat aku. Jika kelak aku besar nanti aku tidak mau berpisah dengan papa. Boleh khan pa……….?”
Papa hanya menggangguk. Setelah itu kamipun sarapan bersama. Sebuah keluarga yang selama ini aku idam-idamkan. Aku ingin setiap hari keluargaku bisa merasakan kebahagiaaan yang selama ini aku rasakan. Semua orang pasti akan merasakan hal yang sama jika bisa selalu bersama-sama dalam suka maupun duka.
“ Ma, kalau setiap hari kita seperti ini papa serasa lebih semangat dalam bekerja.”
“ Aku juga. Aku pengen jadi orang yang sukses untuk membahagiakan papa dan mama.” Sambung kakak.
“Ma.. kalau aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.” Kataku sambil meneteskan air mata.
“Suda-sudah. Kalian semua adalah anak mama dan papa. Dan selamanya akan menjadi anak mama dan papa.” Kata mama, sambil menyuapi aku makan.



THE END

By Sitty Ms(32)/X2


Read More......

CERITA ANAK KOST( Aris marah........)

CERITA ANAK KOST( Aris marah........)


Setiap hari, Tino memang sibuk, dia harus mengerjakan banyak tugas baik dari sekolah ataupun tugas pribadi, maklum anak muda, banyak gaul banyak temen. Dia tinggal di sebuah kost yang letaknya cukup jauh dari sekolahnya, atau tepatnya di pinggir kota. Disana ia tinggal dengan teman-teman kost yang lain.
Suatu hari dia mengerjakan tugas dari sekolah. Dia mengerjakan tugas itu sejak beberapa hari yang lalu. Mungkin tugasnya banyak atau nggak pernah dikerjain.
“Duh, banyak bener tugasnya ya.......... yang satu belum rampung dah datang lagi tugas yang lain. Emang hidup ini ngga ada yang mudah.!!!” Kata Tino kepada Dito yang duduk disebelahnya.........

“Ya iyalah, mau tidur aja sulit apa lagi buat tugas. Gue yang tugasnya nggak banyak aja pusing. Soalnya pacar gue kayaknya selingkuh ma temenku.”sahut Dito dengan bete.
“Pacar loe ada berapa sih, kok dari kemarin pikirin pacar melulu? Pikirin yang lain gitu, ni gue punya tugas buanyak banget, gimana kalo loe bantu gue ngerjain tugas. Mau nggak, entar gue traktir deh” kata Tino dengan merayu.
“Enak aja, pacar gue tu cuma satu, tapi temen cewek gue ada 5. Ada yang di Magelang, Kebumen, pokoknya banyak deh. Loe mau nggak ada satu cewek yang mau gue putusin tu. Tugas loe apa aja sih, kok kayaknya dari kemarin nggak rampung-rampung?” kata Dito.
“Enak aja loe, emang gue apaan? gue aja bingung kok tugasnya nggak rampung-rampung sih, padahal dah gue kerjain berhari-hari.” cerocos Tino.
“Udah loe kerjain aja tugas loe, entar nggak selesai tuh.” kata Dito sambil berlalu meninggalkan Tino.
Dito pergi ke kamar sebelahnya, disana dia melihat Tora dan Aris sedang main game di laptopnya Tora.
“Eh gue boleh ikutan main nggak ni, gamenya bagus banget tuh.”bujuk Dito.
“Entar gantian, loe nunggu dulu, kalo dah game over baru loe main, OK.”kata Aris sambil memainkan gamenya.
Sementara itu Dito membuka-buka Sms di HaPe Aris yang tergeletak di meja. Di tempat lain, Tino asyik mengerjakan tugasnya. Hingga dia tidak merasa bahwa saat itu jam sudah menunjukkan jam 1 malam.
“Ahh....., ngantuk, tapi nanggung tinggal sedikit lagi. Lebih baik selesaiin aja, besok tinggal kumpulin.”kata Tino pada dirinya sendiri.
* * *
Jam 3 pagi.
“Yess..............!!! Tugas sekolah selesai. Besok tinggal ngumpulin.”kata Tino dengan girang. Ia pun mendekap gulingnya dan menarik selimutnya dan ia pun tertidur.
Jam 5 pagi.
“Tinoooooooooooo........., bangun donk, udah pagi, cepetan sholat subuh”teriak Aris sambil mengetuk pintu kamar Tino.
Didalam kamar, Tino masih mendekap gulingnya erat-erat. Kemudian Aris pun mencoba masuk kamar.
“Kalo loe nggak mau bangun, gue terpaksa masuk buat bangunin loe.”Kata Aris.
Aris pun masuk ke kamar Tino dan mencoba membuka pintu. Dia mengira kamarnya dikunci dan ternyata.
“Yee, gue kira kamar lo dikunci.(mungkin dia lupa menguncinya)”kata Aris sambil ia masuk ke kamar Tino.
“Tinoooooooooooooooo.........., bangun, cepat sholat subuh.”teriak Aris sembari mengguncang-guncang badan Tino.
“Apaan sih loe ris!!, ganggu orang tidur aja.!"celathu Tino sewot sambil merem.
“Bagus loe dibangunin malah sewot. Terserah loe deh, gue dah males bangunin loe.” Sahut Aris nggak kalah sewotnya dan langsung keluar dari kamar Tino.
dan GUBRAKKK..!!! pintu kamar Tino di banting oleh Aris.
“Woyyyyyyyyyyyyyyy! Nggak sopan banget sih jadi orang” Teriak Tino. Tino pun melanjutkan tidurnya yang baru beberapa jam.
Aris pun kembali ke kamarnya dan tidak sengaja melewati dapur. Di sana ia bertemu dengan Dito dan Tora.
“Ada apa loe, pagi-pagi muka udah kusut?” tanya Dito.
“Itu lho, temen loe, dasar anak manja nggak tau terima kasih bete gue ama dia,” sahut Aris dengan sewot.
“Loe juga sih, bangunin orang aja pake acara teriak-teriak segala, emang nggak ada cara lain?” lanjut Tora yang seketika itu buat telinga tino memanas karena merasa terpojok dan merasa niat baiknya tidak ada yang menghargai
“Kok loe malah nyalahin gue sih, bukannya belain atu ngehargain dikit, kok malah belain Tino.”jawab Aris sedih.
“Udah-udah pagi-pagi juga, udah ribut, mendingan loe, Aris mandi sana, entar soal mandi juga ribut.”Dito menengahi.
“Loe Tora, gi sana ke kamar loe atau ke tempat yang lain.”suruh Dito.
Jam 6 pagi.
“Woooooooooh, masih ngantuk nih, tadi ada apaan sih kok pada ribut-ribut kayak ada acara arisan gitu?”Ucap Tino tanpa dosa.
“Apa??? loe nggak tau kenapa ada ribut di rumah kost sepagi ini?” tanya Dito agak emosi.
“Ada apaan sih, bikin penasaran aja?” tanya Tino.
“Itu lho, loe tadikan dibangunin ama si Aris!” jawab Tora
“Ooooh, itu, kalo itu gue inget? Gue tadi nggak sengaja bentak-bentak Aris, dia sih teriak-teriak bikin orang kaget aja. Padahal gue kan baru tidur beberapa jam. Aduh Aris marah nggak ya ama gue?” celathu Toni.
“Tau tu, dia tadi kelihatan kusut banget mukanya.” sahut Tora sambil berdiri bersiap untuk sarapan.
“Udah ra, sarapan aja, ngomong sama si Tino nggak nyambung.” Suruh Dito sambil duduk untuk sarapan.
Toni pun ikut duduk bersama Tora dan Dito, ia pun ingin ikut sarapan bersama dengan mereka.
“Yeeee, loe ngapa ikut duduk, baru bangu tidur aja udah mau sarapan, ngerusak selera makan gue aja.” kata Dito dengan gemas.
“Iya nih, mandi dulu gi entar kalo udah kelar, baru sarapan.” suruh Tora denganmengangkat sendoknya.
Kemudian Toni pergi ke kamar mandi dan Tora dan Dito pun melanjutkan sarapan mereka. Ketika Dito dan Tora sedang asyik sarapan, keluarlah Aris dari kamarnya. Ia melewati mereka tanpa sedikitpun menyapa.
“Aris kenapa tuh, apa dia marah besar, bete ata kenapa?” Tanya Dito sambil melihat Aris yang berjalan keluar rumah kost.
“Tau ah, bodo amat.” Tora tak peduli.
* * *
Malam hari di rumah kost
Ketika Tino, Tora dan Dito sedang berkumpul menonton televisi, pulanglah Aris dari segala kegiatannya di luar. Dia melewati mereka tanpa menyapa, bahkan tidak menoleh sedikitpun. Ia langsung pergi menuju kamarnya, entah apa yang ia lakukan disana.
Sementara itu Tora,Dito dan Tino sedang bertanya-tanya ada apakah gerangan Aris hingga ia tidak menyapa sedikit pun. Mungkinkah ia semarah dan sejengkel itu?
“Woyyy, Aris kenapa tuh? Kesambet setan apaan tuh sampe kayak gitu?” cerocos Tora.
“Huss, nggak boleh gitu ah, dia kan teman kita” potong Dito. Sementara itu Toni pura-pura diam tidak tahu, tetapi didalam hatinya ia masih merasa bersalah kepada Aris sehingga Aris menjadi semarah itu.
“Kayaknya kita kudu minta maaf ama si Aris, nggak enakkan suasana kost kalo kayak gini terus, nanti bisa jadi perpecahan diantra kita. Kitakan sudah menganggap kita semua saudara.”Kata Dito mengajak Tora dan Tino.
“Lagian, harus ada yang mengalah, kalian mau kan minta maaf sama Aris?” tanya Dito.
Suasana pun menjadi hening seperti mengheningkan cipta. Mereka memikirkan kesalahan mereka masing-masing yang telah mereka lakukan kepada Aris. Kemudian Tora membubarkan suasana hening.
“Lagian elo sih ra pake acara nasehatin dia segala, dia kan jadi sakit hati tu.”cetus Toni sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Gue kan nggak sengaja bentak dia, kan gue lagi ada di alam bawah sadar.” lanjut Tino tanpa dosa.
“Yeee, capek deh, gue kan cuma bilangin kalo pagi-pagi tu jangan teriak-teriak, lagian kan nggak enak kalo di denger ama tetangga. Loe juga sih dibangunin tapi nggak mau bangun.” sahut Tora.
“Udah-udah jadi minta maaf nggak ni, kalian malah mau ribut lagi.” ajak Dito.
Sementara itu di dalam kamar Aris, Aris sedang menangis karena ia merasa teman-temannya jahat kepadanya. Ia menangis sambil tiduran sambil menatapa sebuah foto. Entah foto ibunya, pacarnya atau malah foto neneknya yang di Kalimantan.
“Tok-tok-tok-tok.” suara pintu kamar Aris diketuk
“Ris lho lagi apa, gi ngerjain tugas atau gi tidur (ups salah kan lagi nangis)?” tanya Tora dengan suara perlahan.
“Ra, loe mau minta maaf atau mau cari masalah lagi?” kata Dito dengan suara agak emosi.
“Ya maaf, gue tadi keceplosan, abiz tadi makan bakso ama sambel sih! Jadi gue mudah banget keceplosan.” celoteh Tora dengan perlahan.
“Trus apa hubungannya keceplosan, makan bakso pake sambel ama minta maaf am Aris?” tanya Tino dengan sedikit emosi.
“Ya nggak ada sih, tadi gue cuma iseng-iseng aja buat lelucon, biar pada tertawa, eh malah di marahi.”sahut Tora dengan malas.
“Udah buruan minta maaf.” suruh Dito
“Ris, kamu marah ya sama aku, aku minta maaf deh kemarin dah bentak-bentak kamu, padahal kamu kan berniat baik, eh malah gue yang sewot.” kata Tino menyesal.
Aris hanya diam saja seperti tak merespon perkataan-perkatan Tino. Dito dan Tora semakin merasa bersalah melihat sahabat mereka sedang sedih, namun mereka sendiri tidak bisa merasakan apa yang telah Aris rasakan.
“Ris, jika kami bersalah kepada kamu, atau ada kata-kata kami yang tak enak di hatimu, maafkanlah kami.” kata Dito memelas.
Kali ini Aris juga benar- benar tidak atau belum merespon perkataan mereka. Sepertinya masih ada yang mengganjal di hati Aris sehingga ia tidak menanggapi kata-kata Tino dan Dito. Aris hanya duduk dan menundukkan kepalanya, air matanya pun tak berhenti mengalir hingga matanya memerah bak darah segar.
“Gimana Ris, apa kamu maafin kami? Kalo kamu nggak mau maafin kami, nggak apa-apalah, toh kami juga yang bersalah.”seru Tora.
Aris pun mulai bergerak dan duduk dengan tenang. Sepertinya ia sudah membuka kembali hatinya dan akan memaafkan kesalahan teman-temannya.
“Aku juga minta maaf, mungkin aku juga yang bersalah kepada kalian, aku kemarin pagi udah teriak-teriak bangunin kamu, padahal kamukan masih capek ngerjain tugas kamu yang numpuk banyak banget.”kata Aris sambil memeluk Tino erat-erat.
“Enggak kok, kamu nggak salah, emang dasar aku aja yang manja, udah baik-baik dibangunin, malah aku nggak mau bangun. Sekali lagi aku minta maaf sama kamu.”kata Tino yang juga meneteskan air matanya karena ia sangat terharu.
“Maafin kita juga ya, kita kan juga punya salah sama kamu.”sahut Dito dan Tora bersamaan.
Aris pun semakin terharu mendengar pernyataan demi pernyataan sahabat - sahabat dalam satu rumah kost itu, dan Aris bangkit dari tempat tidur dan menatap wajah teman2 nya yang sedang harap-harap cemas menanti sebuah jawaban dari permintaan maaf mereka. Lama Aris menatap mereka mencari sebuah kejujuran dan ketulusan di mata mereka apakah mereka tulus dan jujur atas apa yang mereka katakan padanya barusan. Dalam hati Aris merasa terharu dan sangat bahagia serta bersyukur pada tuhan karena telah di pertemukan oleh orang-orang yang baik seperti mereka. Merekapun tersenyum bangga atas persahabatn yang sudah mereka jalin.
Persahabatan memang lebih indah dari apapun...,,,


Read More......

BOLOS, YUK!

BOLOS, YUK!

Sebuah tulisan seorang remaja yang masih mencari jati dirinya melalui pengalaman – pengalaman pertama dengan teman dan berbagai macam orang. Bukan puisi, bukan pantun ataupun lirik lagu. Hanya kata – kata yang sempat melintasi pikirannya dan dirangkai menjadi kalimat kemudian menjadi paragraf. Dan pada akhirnya berakhir menjadi sebuah cerita pendek yang berantakan........


Jum’at. Hari pendek dan nanggung banget buat sekolah. Mendingan tidur di rumah, terus dapet mimpi indah. Yang jelas bukan mimpi basah. Atau main dengan kucing tetangga sebelah. Begitulah ciri – ciri anak yang nggak nggenah. Tapi sayangnya aku nggak punya keberanian untuk bolos sekolah dan mendapatkan itu semua. Sampai tahun ini, kelas 8 SMP, pengalaman mangkir dari kelas yang kumiliki nol. Kadang ada yang iseng ngajak sih, tapi kutolak. Gimana ya, rasanya ada rasa was – was yang mendiami relung hatiku kalau aku bolos. Takut ketinggalan pelajaranlah, takut ketahuan guru terus dapet poin, atau perasaan bersalah karena nggak belajar dengan sungguh – sungguh seperti apa yang diharapkan orang tua. Ketakutan – ketakutan seperti itu terus terbayang dalam benakku dan selalu mengurungkan niatku untuk bolos.
Tapi sejujurnya, aku jenuh dan bosen banget menghadapi tuntutan materi pelajaran yang nggak ada habis – habisnya itu. Apalagi kalau guru yang ngajar itu mboseni banget, berbagai alasan muncul untuk nggak memperhatikan. Bisa-bisa aku masuk ke dunia lain sambil memejamkan mataku. Kalau misalnya aku dapet giliran jawab pertanyaan pas lagi molor, habislah sudah. Aku cuma bisa tanya Tya, teman semejaku, dan pastinya ketahuan sama guru, Pak Sururi misalnya, guru bahasa Inggris.
“Number 9. Who’s the next turn?” tanya Pak Sururi.
“Woi, Zi! Giliranmu! Nomer 9!” kata Tya membangunkan sekaligus meberitahuku yang masih sedikit linglung.
Gara – gara sering tidur di kelas pas pelajaran bahasa Inggris, nilai rapot semester 1 kelas 8 ini aku dapet 68, padahal nilai ulangan dan tesku nggak sejelek itu. Guru bahasa Inggris yang mboseni banget itu mungkin punya dendam pribadi gara – gara aku suka tidur di kelas. Salah sendiri cara ngajarnya menstimulasi sel – sel sarafku membawa impuls bertuliskan ‘tidur wae’. Sebenernya itu bukan murni kesalahanku, tapi salah sel saraf sensorikku yang membawa impuls ‘tidur wae’ itu.
Kembali ke topik semula mengenai hari Jum’at, pelajaran hari ini adalah matematika, seni musik, dan fisika. Untungnya nggak ada pelajaran bahasa Inggris yang hampir selalu membuatku bermimpi di tempat dudukku. Lagipula aku suka matematika dan fisika. Sejak SD aku memang lebih suka pelajaran eksak dibanding sosial atau bahasa. Tapi pelajaran tengah sebelum istirahat, seni musik, bener-bener mboseni. Nggak kalah mboseninya sama pelajaran bahasa Inggris. Apalagi tempat duduk di ruang musik nggak ada meja buat meletakkan kepala. Kalau mau nulis juga nggak enak. Keluar dari sana biasanya punggung pada pegel-pegel.
“Ini sudah semester 2. Materi yang belum dibahas masih banyak banget. Itu saja yang teori nggak saya bahas. Terus kalian mau gimana? Tes semester 2 sebentar lagi, lho?! Kita harus cepat mengejar waktu dan materi,” kata Pak Mariadi, guru seni musik. Perlu diketahui, ucapan dan tindakannya menurutku nggak begitu synchrone. Hampir setiap pertemuan bilang harus cepat mengejar materi, tapi pidatonya hampir sejam pelajaran, oi! Terus kalau bel jam pertama bunyi, “Nah, itu bel jam pertama sudah bunyi. Kita belum dapet apa – apa.”
Kalau di komik, tokohnya pasti langsung sweatdropped (mengeluarkan setetes keringat di dekat mata dan pipi) dan ada tulisan ‘TOENG’-nya.
“Heh, Pak Mariadi nyadar nggak sih kalau yang seharusnya cepet itu dia? Kita ketinggalan pelajaran kan gara – gara dia banyak ceramah!” bisik Tya. Wah... ternyata nggak cuma aku yang merasa Pak Mariadi itu nggak synchrone antara apa yang dikatakan dan dilakukan.
* * *
Di salah satu hari Jum’at di kelas 8 SMP, aku mendapat pengalaman pertamaku mangkir dari kelas alias bolos pelajaran. Yah... awalnya juga karena aku diajak sama 2 orang temanku. Yang jelas salah satunya bukan Tya. Maklumlah, dia kan rajin dan selalu memperhatikan. Nah, kalau temanku yang namanya Ria dan Adin, memang pernah bolos beberapa kali. Merekalah yang mengajakku.
Tujuan utama kami adalah UKS. Sebenernya lebih asyik kalau bolos ke kantin. Tapi kalau di kantin lebih gampang ketahuannya. Kalau pingin lebih aman lagi, bolos di perpustakaan. Tapi, masa sih mau bolos di perpus?
“Ya, bilang ke Pak Mariadi kalau kita bertiga nggak enak badan, di UKS! Ya? Please!?” kata Ria memohon pada Tya yang sedang bersiap – siap mengambil recorder dan buku seni musiknya.
“Kalau cuma itu sih, it’s OK! Tapi aku nggak tanggung ya kalau misalnya kalian ketahuan bolos,” jawab Tya.
“Siip,” jawab Ria dan Adin secara bersamaan.
Kami berempat berjalan bersama menuju bagian selatan sekolah di mana ruang musik berada. Tapi aku, Ria, dan Adin berhenti di UKS. Adin mengingatkan kembali agar Tya bilang ke Pak Mariadi sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
Buatku yang baru pertama kali bolos cuma bisa ikut – ikutan. Jantungku berdegup kencang memikirkan apa yang akan terjadi nanti dan apa yang akan kita lakukan selama 2 jam pelajaran seni musik atau sekitar 80 menitan. Rasa takut akan ketahuan sebenarnya terus menghantuiku. Tapi, demi mendapatkan sebuah pengalaman berharga, bolos sekali-kali nggak apa kan?
Lagipula aku bosen menjalani kehidupan sekolah yang statis ini. Duduk di kelas memperhatikan guru, mencatat materi pelajaran, latihan soal, dan akhirnya ulangan. Kehidupanku di sekolah sehari – hari selalu saja seperti itu. Kalau pelajaran itu menarik bagiku sih, it’s OK untuk tetap bertahan di kelas. Tapi untuk pelajaran yang nggak asyik, seni musik misalnya, kelas membuat tingkat kejenuhan dalam otakku meningkat drastis. Untuk pelajaran yang seperti itu, boro – boro mudheng apa yang diterangkan, bertahan untuk tetap menutup mulut agar tidak menguap alias angop saja susahnya minta ampun.
Nah, kembali ke acara bolosku di UKS.
“Kalau bolos, biasanya ngapain?” tanyaku pada kedua orang temanku.
“Macem – macem, Zi! Yang jelas dan selalu kita lakukan sih nggosip. Ya kan, Din?” jawab Ria yang kemudian melemparkan pertanyaan pada si Adin.
“Yep! Pokoknya asyiklah!”
Dan waktu pun terus berjalan. Beberapa guru melintasi UKS ke atau dari perpus. Soalnya di UKS ada 2 pintu ke depan (kantor guru) dan belakang (lapangan dan perpustakaan). Beberapa dari mereka tanya ’sedang apa’, dan beberapa yang lain hanya tersenyum.
Di UKS, kami bertiga hanya nggosip ke sana ke mari. Dari mulai teman sekelas, tetangga kelas, adik kelas, kakak kelas, bahkan guru – guru dan petugas perpustakaan turut serta menjadi bahan perbincangan kami. Mulai cowok ganteng, pasangan baru di sekolah, kejadian – kejadian lucu dan menyebalkan, juga guru – guru killer, guru TIK contohnya.
Satu kejadian unik yang terus kuingat adalah saat aku, Ria, dan Adin melihat di luar jendela Pak Sururi yang sedang melakukan skipping sambil mendedangkan sebuah lagu.
“Siang – siang panas gini skipping? Sambil nyanyi lagi!” komentar Ria. Yah … menurutku Pak Sururi memang aneh.
Setelah beberapa kali membicarakan berbagai gossip yang sedang hot, bel istirahat akhirnya berbunyi. Pelajaran musik dan acara membolos kami juga berakhir sampai di sini. Teman – teman sekelas dari ruang seni musik, termasuk Tya, melintas melewati depan UKS. Kami bertiga juga ikut masuk ke dalam rombongan dan menuju ke kelas.
“Heh, Zi, tadi Pak Mariyadi tanya lho. Terus dia tahu kalau kamu, Ria, sama Adin bolos di UKS,” kata Tya memberi info.
“Terus gimana?” tanyaku. Sedikit khawatir.
“Ya... nggak gimana – gimana sih. Ceramahnya juga panjang seperti biasa. Mungkin pertemuan minggu depan dia baru bertindak mengenai hal ini,” jawab Tya.
“Oh..,” kataku sambil mendesah. Kemudian menghela nafas panjang. Rasa khawatir mulai berkecamuk dalam hatiku. Pengalaman bolosku yang pertama ternyata ketahuan. Entah suatu kesialan atau justru keuntungan bagiku yang memang cari pengalaman. Yah... lihat saja nanti minggu depan. Kira – kira apa ya yang akan dilakukan Pak Mariyadi? Perasaan berdebar – debar memenuhi hatiku.
* * *
Jum’at pagi minggu berikutnya. Hari yang membuatku berdebar – debar menanti apa yang akan terjadi nanti di pelajaran seni musik. Satu pengalaman kudapat lagi. Hari ini aku telat.
Memang banyak siswa yang telat di hari Jum’at ini. Soalnya setiap hari Jum’at ada senam pagi di sekolah dan masuk pukul 6.30. Dan hari ini, sialnya aku bangun jam 6 pagi. Mandi 15 menit. Aku harus menyiapkan buku pelajaran selama 10 menit, soalnya tadi malam aku males banget. Belum lagi sarapan yang berlangsung selama 10 menit. Dasarnya sudah telat 5 menit waktu berangkat dari rumah, jalan 10 menit membuatku telat 15 menit dan tertahan di depan gerbang. Petugas kedisiplinan dari OSIS menanyai dan menarik buku tata tertib alias buku poin siswa yang telat. Sudah ada 10 poin di bukuku gara – gara telat 2 kali, sekarang harus tambah lagi 5 menjadi 15. Dan lagi-lagi itu karena telat.
Setelah menyerahkan buku tata tertibku, aku segera berlari menuju kelas melewati ‘gang senggol’, gang kecil di antara ruang guru dan tata usaha yang jika 2 orang berpapasan maka akan bersenggolan. Setelah meletakkan tas di tempat dudukku dan memakai baju olah raga, aku segera berlari menuju lapangan untuk mengikuti senam yang sudah memasuki gerakan inti, hampir pendinginan.
“Telat ya, Zi?” tanya Dana, salah satu temanku yang paling heboh di kelas.
“Yah... seperti biasa, bangun kesiangan,” jawabku santai. Kalau soal telat sih aku sudah biasa. Sudah tidak ada lagi perasaan takut atau khawatir karena poin – poin yang menghiasi buku tata tertibku. Biar rumahku dekat, tapi aku sering bangun kesiangan. Frekuensi telatku lebih banyak dari Dana yang rumahnya jauh dan harus naik sepeda 20 menit.
Yang masih terus membuatku khawatir adalah mengenai apa yang akan terjadi di pelajaran seni musik nanti. Apa Pak Mariyadi akan memberi kami poin atau memberi kami sanksi yang lain. Atau akan memarahi kami habis – habisan. Atau yang paling parah melarang kami mengikuti pelajarannya dan tidak memberi kami nilai. Kalau misalnya Pak Mariyadi memberiku poin, maka itu tidak perlu ditakutkan lagi. Buku tata tertibku kan sedang ditahan seksi kedisiplinan OSIS gara – gara telat.
Yang paling menakutkan tentu saja larangan untuk tidak mengikuti pelajarannya dan tidak diberi nilai. Asal tahu saja, biar nggak bisa nyanyi atau main alat musik, nilai teori seni musikku selalu di atas sembilan dan itu membantuku memperbaiki nilai praktekku yang biasa – biasa saja.
Kini pelajaran matematika yang kusuka sedang berlangsung. Pak Tri, guru matematika, sedang memberi kami beberapa soal tantangan mengenai bangun ruang. Guru yang satu ini memang bisa menarik minat para siswa dengan soal – soal menantang yang selalu membuat penasaran akan jawaban dan cara pemecahannya. Rasa penasaranku akan soal – soal yang diberikan oleh Pak Tri membuatku melupakan kekhawatiranku akan pelajaran seni musik nanti.
“Yang bisa mengerjakan soal nomer 5 beserta caranya, nilainya akan saya tambah 1 untuk ulangan harian bab yang lalu,” kata Pak Tri memberi semangat pada siswa-siswa.
Tanganku sibuk menggambar dan menghubungkan garis – garis yang membentuk bangun 3D berupa limas segi enam. Otak dan mataku sibuk berkutik dengan angka – angkanya. Beberapa kali aku menemui jalan buntu. Tapi aku tidak menyerah. Aku ingin menambah 1 nilaiku untuk ulangan bab yang lalu agar bisa menjadi nilai 10 sempurna.
“TEET...TEET...,” bel berbunyi 2 kali. Menandakan pelajaran berganti.
“Belum ada yang bisa menyelesaikan soal nomer 5, dan tambahan nilai 1 dibatalkan,” kata Pak Tri sambil menata bukunya untuk dibawa keluar. “Untuk PR, LKS halaman 28.”
“Yah.......” keluh semua siswa.
“Beri salam!” kata Pami, si ketua kelas memberi instruksi.
“Slamat pagi, Pak!”
“Slamat pagi,” jawab Pak Tri, kemudian keluar menuju ke arah ruang guru.
Kami pun segera bersiap – siap menuju ruang musik. Akhirnya datang juga. Memasuki ruang musik membutaku sedikit berdebar – debar menanti apa yang akan terjadi di sana.
“Beri salam!”
“Slamat pagi, Pak!” kami memberi salam kepada Pak Mariyadi dengan suara yang lebih tegas daripada salam yang kami berikan pada Pak Tri. Katanya musik harus bisa mengeluarkan suara yang tegas.
“Slamat pagi! Nah, buat Adin, Nazihah, dan Ria yang nggak ikut pelajaran minggu lalu, harap mengemukakan alasannya,” kata Pak Mariyadi di awal pelajaran.
Adin dan Ria sudah mengemukakan alasannya. Kini tibalah giliranku. Nggak seperti pas pelajaran bahasa Inggris, aku tidak tidur saat giliranku tiba.
“Hari itu lagi males ikut pelajaran,” jawabku singkat. Yah… karena Pak Mariyadi sudah tahu kalau kami bolos, mending bilang aja terus terang, begitu pikirku.
“Ya sudah. Pertemuan mendatang kalian harus menyerahkan surat pernyataan untuk tidak mengulangi hal yang sama dengan disertai tanda tangan orang tua!” kata Pak Mariyadi.
Sementara ia sibuk dengan ceramah panjangnya, pikiranku melayang – layang membayangkan bagaimana aku harus membuat surat pernyataan. Sebenarnya bukan hal sulit, tapi kalau harus ditandatangani orang tua… gimana ya? Berarti aku harus bilang ke, paling tidak, ibuku bahwa aku pernah bolos sekali. Sementara aku nggak ingin membuat orang tuaku kecewa. Apa yang harus aku lakukan? Seperti minggu lalu, pikiranku dipenuhi akan hal – hal yang masih tetap berhubungan dengan acara bolosku yang pertama.
* * *
Jum’at datang lagi. Masih berhubungan dengan acara bolosku.
Jum’at ini aku nggak telat. Meskipun bel langsung berbunyi begitu aku meletakkan tas, aku masih bisa mengikuti senam pagi. Untung Jum’at ini aku nggak telat, soalnya mereka yang telat harus memunguti sampah di lapangan begitu senam pagi selesai.
Mengenai surat pernyataan itu, aku sudah membuatnya tadi malam. Ada sekitar 5 lembar kertas yang kubuang karena gagal meniru tanda tangan ibuku. Capek dengan urusan tanda tangan, kubuat saja seasalnya. Toh Pak Mariyadi juga nggak tahu bagaimana wujud sebenarnya tanda tangan ibuku. Surat pernyataan itu kumasukkan ke dalam amplop berukuran 95 x 152 mm berwarna putih dan kurekatkan dengan lemnya. Kemudian kuselipkan ke dalam buku seni musikku.
Seperti hari Jum’at yang biasanya, kami segera bergegas menuju ruang musik setelah Pak Tri keuar dari kelas. Semua bergerak cepat menuju ruang musik untuk mendapatkan tempat duduk terbaik. Dan seperti biasanya lagi, Pak Mariyadi memulai pelajarannya dengan ceramah panjang lebar tanpa sedikit pun membahas mengenai aku, Adin, dan Ria yang membolos 2 minggu lalu dan juga mengenai surat pernyataan yang telah kuganti sebanyak 5 kali dalam semalam.
Begitulah akhir dari serangkaian acara bolosku. Surat pernyataan itu masih tetap tersimpan di dalam buku seni musikku bersama catatan – catatan not balok, lirik lagu dan akor – akor yang memusingkan. Pengalaman pertamaku bolos membuatku mendapatkan keberanian untuk membolos di kesempatan – kesempatan berikutnya, tapi tidak untuk pelajaran seni musik. Juga memberitahuku bagaimana alasan yang harus dibuat saat harus membolos, tipe guru seperti apa yang gampang diajak kompromi soal hal ini, serta tempat paling nyaman untuk membolos. Dan memberitahuku betapa asyiknya menghirup udara di luar kelas saat tingkat kejenuhan otak meningkat dan hampir menjebolkan parameter kejenuhan.
* * *
By: Nazihah
(neutral girl)


Read More......

Soccer Rankings